#SaveTenagaKesehatanIndonesia Nota Keberatan terhadap ‘Sikap Kasar’ Gubernur Jambi: Zumi Zola, terhadap Dokter dan Perawat RSUD Raden Matahher

#SaveTenagaKesehatanIndonesia

Nota Keberatan terhadap ‘Sikap Kasar’ Gubernur Jambi: Zumi Zola, terhadap Dokter dan Perawat RSUD Raden Matahher

Menjadi seorang pekerja di dunia kesehatan di Indonesia betul-betul miris. Dihujat saban hari, jadi sasaran ‘kutukan’ masyarakat terhadap sistem kesehatan yang kacau balau. Padahal ujung pangkal masalahnya ada di ‘Pemerintah’ itu sendiri.

Tenaga medis adalah manusia biasa. Di Indonesia, tenaga medis melayani ratusan orang sakit setiap harinya, dengan sistem yang gonta-ganti (tanpa sistem pembiayaan kesehatan yang ajeg), dengan support pembiayaan yang minim dari negara, mayoritas menerima ‘gaji di bawah UMR’, tidak ada uang tunjangan untuk vaksin atau suplemen, yang non-pns sebagian besar bahkan tidak punya asuransi kesehatan, setiap harinya di rong-rong pasien yang mengaku pejabat atau mengancam akan menuntut secara hukum. Apa perasaan saudara bila di posisi sebagai tenaga medis??.
Prihatin? Empati?
Atau justru dengan apatis bicara: ‘itu resiko jadi tenaga medis?’
‘Harus ikhlas’. Dan ungkapan sufi lainnya yang seakan hanya berlaku bagi profesi kesehatan, lainnya tidak.

Saudara, mari insyafi sejenak, sebuah dunia yang menjadi tulang punggung ketahanan sebuah bangsa: Dunia Kesehatan. Tidak ada yang protes Polisi-Tentara di gaji layak, diberi pangkat, tunjangan, dan fasilitas kesehatan lain. Agar fokus pada tugasnya melindungi bangsa. Guru mendapatkan sertifikasi dan tunjangan, karena jasa-jasanya dan harapan wajah pendidikan kita lebih baik. Gaji PNS diberikan jauh di atas UMR, tunjangan kepangkatan, asuransi kesehatan, dana pensiun, dan segenap fasilitas lainnya. Dengan harapan PNS selaku abdi negara bisa mengabdi dengan profesional, tidak korup, imbasnya; performa pemerintahan negeri ini menjadi efektif dan adil. Lantas bagaimana kita “memperlakukan” pekerja di dunia kesehatan selama ini?

Sadarkah kita, bahwa biaya pendidikan dokter dan tenaga kesehatan adalah yang termahal dibanding bidang keilmuan lain? Fatalnya subsidi dari negara yang dulu ada, justru kini dicabut, sehingga mahalnya biaya tadi hampir sepenuhnya mesti ditanggung para mahasiswa kesehatan. Dari mulai pendidikan sarjana, profesi, spesialis. Kurva “kemahalan” ini menanjak terus. Apakah jaminan pasca lulus semua tenaga medis sejahtera?. Kita akan membahas kesejahteraan tenaga kesehatan yang sering dicibir oleh media massa dan sebagian pihak: “harus kerja ikhlas”. Seolah tenaga kesehatan ‘haram’ menuntut hak untuk sejahtera lahir batin.

Sebagian besar tenaga kesehatan di Indonesia bukanlah PNS. Pihak swasta ataupun fasilitas kesehatan negara yang mempekerjakan mereka (status honorer/ Tenaga Harian Lepas) menggaji dengan amat tidak layak. Ada yang tidak digaji, hanya dapat uang ‘tip’ dari merujuk. Ada yang digaji bahkan tidak sampai setengah dari besaran UMR. Untuk fasilitas kesehatan: hampir semua tenaga kesehatan di Indonesia tidak mendapatkan Anggaran khusus untuk vaksinasi atau suplemen kesehatan, padahal tenaga kesehatan adalah yang paling rawan tertular penyakit berat. Sebagian besar tenaga kesehatan yang bukan pegawai pemerintah, tidak mempunyai asuransi kesehatan. Sedih sekali menyaksikan teman-teman sesama tenaga kesehatan yang sering kali tidak bisa berobat, karena tidak punya biaya. Tragis, mereka di lini terdepan yang merawat rakyat negerinya, namun perlakuan dan fasilitas yang mereka dapat justru sebaliknya.

Dunia kesehatan sangat menegangkan, tinggi tingkat stress-nya. Maka itu sebagian menyebutnya: “rimba raya”. Orang non-medis yang memilih pasangan hidup yang bekerja sebagai tenaga kesehatan pasti menyadari stress tegangan tinggi ini. Keilmuan harus diterapkan sedisiplin mungkin, protap mesti dijalankan seprofesional mungkin, siap bertugas mendarmakan ilmu dan keahliannya; kapanpun dimanapun diperlukan sepanjang usianya, berhadapan dengan pasien dan keluarganya yang sebagian sikap dan ucapnya sangat menyesakkan hati, sistem kesehatan yang kacau, pendapatan minim, cibiran sebagian Masyarakat untuk “ikhlas” saat menyuarakan aspirasi, jam kerja diluar batas; baik kuantitasnya maupun “family time” yang tergadai karena harus “shift malam”. Dengan pengorbanan yang demikian besar inilah, para tenaga kesehatan di berbagai belahan dunia sangat dihormati. Orang-orang yang me-wakafkan usianya untuk belajar dan merawat “manusia” dan kemanusiaan, seumur hidupnya. Karenanya mereka deserve/ layak menyandang; penghormatan sosial, jaminan perlindungan hukum, serta kesejahteraan yang layak. Diberbagai negara di dunia ini; tenaga kesehatan-lah yang mendapat penghormatan dan perlindungan terbaik. Lantas, bagaimana Pemerintah Indonesia memperlakukan tenaga medisnya?

Di Australia; Dokter, perawat, bidan, bahkan supir ambulans, mendapatkan perlindungan dari negara. Sesiapapun yang mengancam mereka baik verbal maupun fisik, akan berhadapan dengan tuntutan hukum khusus, pidana penjara selama 14 tahun. Di Jerman dan Perancis; sarjana di bidang kesehatan, dibebaskan biaya pendidikanya, dan ketika memasuki pendidikan profesi (Co-Ass, Pendidikan Dokter Spesialis, Ners, Apoteker, Ahli Gizi) mereka mendapatkan gaji, sedangkan di Indonesia masih harus membayar dana yang selangit. Seringkali saking besarnya biaya, para siswa ini mesti putus sekolah profesinya. Jika masih ingat, serangan tentara Israel terhadap kapal pembawa bantuan medis ke Palestina: Navi Marmara, mendapat kecaman keras dari berbagai negara, termaksud PBB. Dalam situasi perang pun Tenaga kesehatan mesti dilindungi, karena dunia menyadari urgensi peran dan menghormati pengabdian mereka.

Di Indonesia; Pemerintah serta para politisi belum memahami dan menyadari vitalnya peran dunia kesehatan. Anggaran seadanya, sistem yang chaos, sistem pendidikan kesehatan mahal dan tidak profesional, “kesehatan gratis” jadi barang komoditi jualan politik, fasilitas kesehatan serta aksesnya sangat terbatas. Dan kita dikejutkan dengan; Kemarahan Gubernur Jambi terhadap tenaga medis yang beristirahat sejenak (saat kondisi tidak gawat) sangat tidak patut. Berteriak-teriak, bersikap kasar, membawa kamera ke dalam rumah sakit; out put apa yang diharapkan???

Di Inggris, rakyat bersatu bersama tenaga medis saat aksi turun ke jalan “menolak upah murah” bagi tenaga medis. Aksi ini adalah yang pertama setelah 25 tahun. Mereka menyadari: “when you pay with a peanuts, so you’ll get a monkey”. Di Korea rakyat bersatu mendukung para dokter yang menolak pemotongan jasa medis dan jam kerja di luar batas, serta intervensi wajib militer di dunia medis. Di Indonesia; kita sayangnya belum mencapai “kesejiwaan” antara tenaga medis dengan rakyat. Peran “media massa” dan jualan politik “kesehatan gratis” sangat berdampak dalam menciptakan ‘jurang’ antara rakyat dan tenaga kesehatan. Para Dokter, Dokter Gigi, Perawat, Bidan, Apoteker, di Indonesia masih harus berhadapan dengan “barrier” media massa bila ingin menyerukan aspirasinya. Pengabdian para tenaga kesehatan serta mirisnya nasib mereka seakan sepi peminat. Media lebih ramai memberitakan “dugaan” mal praktik dan “vaksin palsu” yang faktanya tidak ada sangkut pautnya dengan dokter.

Apa yang dilakukan Gubernur Jambi amat disayangkan, tenaga kesehatan tidak layak diperlakukan begitu. Pengabdian mereka belum sepadan dengan hak yang semestinya mereka dapat. Nestapanya masih dihujami derasnya fitnah dan pelecehan profesi yang seakan “diaminkan” media massa. Kegagalan pemerintah menciptakan performa fasilitas kesehatan yang prima, dimuntahkan kesalahannya pada tenaga kesehatan. “Pengobatan alternatif”, praktik Dokteroid (oknum non medis yang berlaku layaknya dokter), serta overclaim produk kesehatan (biasanya MLM), yang jelas-jelas membahayakan rakyat, justru dibiarkan melenggang. Terbit di media massa dan bahkan siaran di radio dan TV nasional. Fatal!!!

Jika fitnah dan ketidakadilan bertubi-tubi ditumpahkan ke para tenaga kesehatan kita, mustahil kita menjadi bangsa yang kuat, dan berdaulat dalam hal industri pelayanan kesehatan.
Chaos-nya sistem pelayanan kesehatan dan sistem pendidikan kesehatan, akan dengan mudah dilumat “fasilitas kesehatan asing” yang semakin menjamur hari-ke hari. Kulminasinya; Kelak kita hanya sanggup jadi pasien yang bangkrut dan terlunta-lunta di negeri sendiri.

Semoga tidak.

radietya alvarabie

Iklan

“Kualitas” Kita dan Gubernur hari ini

“Kualitas” Kita dan Gubernur hari ini

Saudara, hari ini Kita punya PR Besar. Kepemimpinan, persatuan, dan juga perpolitikan di negeri kita diuji dan dihentak.

Atas itu semua marilah kita koreksi dan rapikan barisan; sambung yang terputus, jalin yang terenggang, basuh yang terluka. Di antara PR Besar yang mesti kita renungkan:

1. PR besar terkait akidah, fikrah dan ghirah umat.

Dalam hal ini utamanya umat yang di Jakarta. Tentang ketaatan pada Ulama, tentang cara memandang negara, kebangsaan, perpolitikan dan banyak dimensi lain, bil khusus dari sudut pandang Islam.

Belum tepat mengutuk sesiapapun yang “membangkang” ulama, tanpa menelaah bagaimana Agama diterapkan integral dalam tiap episode dan jenjang pendidikan.

Kita dipukul telak dengan ‘giat’ -nya televisi hingga media sosial men-‘tarbiyah’ generasi hari ini.

Tanpa mesti bertekun-tekun menuntut ilmu, berkhidmat dalam amal, ber-wara’ dalam sikap. Toh sesiapapun bisa menyumbar bahkan mencela ‘fatwa’.

Manakala Abuyya Berpidato tentang Islam sebagai dasar negara dalam Konstituante 1959, Bung Karno membubarkan Masyumi di mana Hamka bernaung, bahkan menjebloskannya ke Penjara. Abuyya hanya diam tak membalas. Teguh pada perjuangannya. Pada akhirnya menjelang wafat, Soekarno pulalah yang meminta di shalatkan oleh Hamka. Dan Abuyya pun menyolatkanya tanpa serapah apapun.

Hari ini adakah kita bercita menjadi Hamka -Hamka muda?
Yang begitu dalam ilmu Agamanya, luas pengetahuan kenegaraanya, serta tetap santun dan memaafkan. Beliau kedepankan ukhuwah dan persatuan bangsa.

2. Kita punya PR Besar tentang SDM.

Kader-kader dakwah mesti unggul dan Paripurna. Mesti siap di berbagai posisi penting dan strategis bagi umat, dengan skala nasional dan bahkan multinasional.

Gubernur kita bukan asli Jakarta. Dari daerah terpencil. Ayahnya susah payah berdagang, sampai jadi pengusaha besar. Menyekolahkan anak-anaknya jadi dokter (Adik Gubernur kita) di mana sang Dokter ini bahkan kini jadi Bupati di kampungnya. Dan Gubernur kita disekolahkan di Teknik Pertambangan Universitas Trisakti. Jurusan dan Universitas yang Amat bergengsi saat itu. Beliau dipersiapkan matang-matang untuk jadi “manusia unggul”.

Susah payah sekolah, merantau. Insinyur Pertambangan ini pulang ke kampungnya menjadi Bupati, pasca itu berangkat ke Jakarta jadi anggota DPR. Tidak berhenti di situ, beliau dengan koneksinya berhasil kontak dengan Rizal Ramli (tokoh bangsa saat itu/ Menko) dan lugas memaparkan: “ingin jadi Gubernur Jakarta”.

Adakah di antara kita yang bercita-cita begitu lugas?
Dengan persiapan yang matang, tekad kuat, dan totalitas perjuangan, sesiapapun sunnatullah-nya kan tersampaikan pada yang ia cita-citakan.

3. PR Besar berikutnya yakni: Bagaimana kita memenangkan hati, bukan hanya umat seiman, namun juga umat lain.

Pendahulu-pendahulu kita telah berhasil menjalani sejarah dengan keteladanan luar biasa yang selalu ditakzimi sesiapapun rakyat negeri ini.

Mohammad Hatta adalah muslim yang taat. Kala beliau mangkat, sebelum Jenazahnya lewat untuk dimakamkan; puluhan ribu orang berdesakan menanti jenazah beliau, hiruk pikuk kota mendadak hening, kerumunan orang tersebut ramai berjejalan sembari menunduk haru, sesenggukan.
Puluhan ribu lainnya mendengarkan lewat radio dari pulau-pulau yang jauh; tentang wafatnya Hatta, dengan berlinang air mata membayang santun, jujur, sederhana, serta teguhnya Perjuangan Hatta. Di warung-warung kopi, di warteg-warteg.

Adakah hari ini tokoh bangsa yang pabila wafat meninggalkan kedukaan sebegitu dalamnya?

4. Tentang perundang-undangan dan legislasi di negeri ini.

Ir. Soekarno kali pertama terjun belajar politik saat usia beliau 15 tahun. Semaoen menggulati politik dan Grand design kenegaraan bersama Soekarno dan Sekartadji Maridjan Kartosuwiryo di Rumah Omar Said Tjokroaminoto pada usia 14 tahun.
Bahkan Muhammad Darwis (KH.Ahmad Dahlan muda) dan KH. Mas Mansyur, pernah belajar di Kalimas, Surabaya. Tempat Tjokroaminoto dan tokoh Syarikat Islam lainnya bertukar pikiran.
Tentang cita-cita bernegara bagi bangsa, yang bahkan belum merdeka.

Hari ini, berapa banyak dari generasi kita yang berpikir tentang “Negara”?
Belajar perundang-undangan, tata negara, dan Grand design bangsa di masa depan.

5. Jaringan, Dunia Perdagangan dan perekonomian.

Saat delegasi Indonesia, KH. Agus Salim dan Sutan Sjahrir menyambangi timur tengah untuk meminta dukungan kemerdekaan. Segera Mufti Mesir: Syaikh Amin Al Husaini yang sedang berada di Jerman, menyiarkannya langsung dari Radio Berlin ke seluruh dunia; tentang kemerdekaan Indonesia.

Tidak sampai di situ, Moh. Ali Taher pengusaha Palestina menyumbang “seluruh” uangnya di Bank Arabia untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Semoga tidak hilang di kenangan kita tentang Monumen Nasional yang “Emas”-nya disumbang rakyat Aceh, sebagian besarnya oleh Pengusaha asli tanah rencong; Teuku Markam.

Perjuangan menuntut maaliyah yang tidak sedikit. Perekonomian yang digenggam negarawan yang Hanif akan menghadirkan kesejahteraan bagi semua.

Semoga masih ada pemuda kita bercita menjadi pedagang dan pengusaha.

Terlepas dari ramainya perdebatan di ruang publik dan digital tentang fenomena hari ini, semoga “PR-PR” besar kita ini sempat direnungkan dan sungguh-sungguh digarap. Demi nasib dan cita-cita bangsa yang lebih baik di hari depan; Baldatun thayyibatun warrabun Ghafur

– radietya alvarabie

Hutang Kita Banyak pada anak-anak

Hutang Kita Banyak pada anak-anak

Tidak jarang, kita memarahi mereka saat kita lelah.
Kita membentak mereka padahal mereka belum benar-benar paham kesalahan yang mereka lakukan.
Kita membuat mereka menangis karena kita ingin lebih dimengerti dan didengarkan.

Tetapi,
seburuk apapun kita memperlakukan mereka, segalak apapun kita kepada mereka, semarah apapun kita pernah membentak mereka…
Mereka akan tetap mendatangi kita dengan senyum kecilnya.
Menghibur kita dengan tawa kecilnya,
Menggenggam tangan kita dengan tangan kecilnya,
Seolah semuanya baik-baik saja,
seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.

Mereka selalu punya banyak cinta untuk kita,
meski seringkali kita tak membalas cinta mereka dengan cukup.

Kita bilang kita bekerja keras demi kebahagiaan mereka,
tetapi kenyataannya merekalah yang justru membahagiakan kita dalam lelah di sisa waktu dan tenaga kita.

Kita merasa bahwa kita bisa menghibur kesedihan mereka atau menghapus air mata dari pipi-pipi kecil mereka,
tetapi,
Sebenarnya kitalah yang selalu mereka bahagiakan.
Merekalah yang selalu berhasil membuang kesedihan kita,
melapangkan kepenatan kita, menghapus air mata kita.

Kita berhutang banyak pada anak-anak kita.
Dalam 24 jam, berapa lama waktu yang kita miliki untuk berbicara, mendengarkan, memeluk, mendekap dan bermain dengan mereka?

Dari waktu hidup kita bersama mereka, seberapa keras kita bekerja untuk menghadirkan kebahagiaan sesungguhnya di hari-hari mereka, melukis senyum sejati di wajah mungil mereka?

Tentang anak-anak,
Sesungguhnya merekalah yang selalu “lebih dewasa” dan “bijaksana” daripada kita.
Merekalah yang selalu mengajari dan membimbing kita menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya.

Seburuk apapun kita sebagai orangtua, mereka selalu siap kapan saja untuk menjadi anak-anak terbaik yang pernah kita punya.

Kita selalu berhutang kepada anak-anak kita.
Anak-anak yang setiap hari menjadi korban dari betapa buruknya cara kita mengelola emosi.
Anak-anak yang terbakar residu ketidakbecusan kita saat mencoba menjadi manusia dewasa.
Anak-anak yang menanggung konsekuensi dari nasib buruk yang setiap hari kita buat sendiri.

Anak-anak yang barangkali masa depannya terkorbankan gara-gara kita tak bisa merancang masa depan kita sendiri.
Tetapi mereka tetap tersenyum, mereka tetap memberi kita banyak cinta, mereka selalu mencoba membuat kita bahagia.

Maka dekaplah anak-anakmu, tataplah mata mereka dengan kasih sayang & penyesalan, katakan kepada mereka:
“Maafkan untuk hutang-hutang yang belum terbayarkan”

Maafkan jika semua hutang ini telah membuat Allah tak berkenan.
Maafkan karena hanya pemaafan dan kebahagiaan kalianlah yang bisa membuat hidup ayah dan ibu lebih baik dari sebelumnya.
Iya, lebih baik dari sebelumnya.

Selamat memeluk anak-anak kita.

Darurat Reformasi Sistem Pendidikan Kedokteran (Ed.II)

Laporan Kasus dari FK (Fak.Kedokteran)Universitas Papua Barat: 2 Bulan Perkuliahan Kedokteran TANPA DOSEN

Sungguh, betapa bidang Kedokteran dan Kesehatan adalah aspek vital dan sangat prioritas bagi sebuah bangsa. Kami mengharapkan betul-betul agar Pemerintah berkenan menaruh perhatian pada sektor ini. Selayaknya perhatian yang besar pada kepolisian-TNI serta perpolitikan negeri ini.

Sistem pelayanan kesehatan kita yang belum optimal, diantaranya karena faktor jumlah tenaga kesehatan dan pemerataannya yang masih terlalu jauh paritasnya. Indonesia, dengan tingkat taraf kesehatan no. 90 di Dunia, memiliki rasio dokter per 1000 populasinya sebesar 0.204. Di sisi lain, Singapura dengan rasio dokter per 1000 populasinya sebesar 1.95 menempati tingkat taraf kesehatan no. 1 di Dunia. Berdasarkan data ini, jelas sudah bahwa: rasio jumlah dokter terhadap populasi “sangat” menentukan kualitas taraf kesehatan masyarakat.

Populasi Indonesia saat ini berada pada angka 254.454.778. Sedangkan, jumlah dokter umum di Indonesia berada pada angka 109.641. Di sisi lain jumlah dokter spesialis yakni: 29.796. Singkatnya bahwa: 1 dokter umum bertanggung jawab terhadap 2.320 orang Masyarakat Indonesia. Sedangkan dokter spesialis bertanggung jawab terhadap 8.540 orang. “Defisit” jumlah dokter ini masih diperparah dengan amat tidak meratanya sebaran lokasi dokter di Indonesia, negeri yang terdiri dari lebih 17.000 pulau ini.

“Gap” rasio jumlah dokter terhadap populasi masyarakat ini, disikapi dengan “menjamur”-nya Fak.Kedokteran “baru”. Namun setelah FK baru tersebut berdiri, selanjutnya bagaimana dengan proses perekrutan termaksud “penggodokan” para calon dokter ini?. Negara mesti turut andil. Mengharapkan panen yang berkualitas dan melimpah, tentunya “lahan”-nya mesti subur dan dirawat. Begitu pula dengan dunia pendidikan, dalam hal ini pendidikan kedokteran. Mesti adil dan profesional. Dokter dengan kualitas macam apa yang kita harapkan? bila sejak awal Negara tidak (atau mungkin belum) serius membentuk sistem pendidikan kedokteran yang mapan.

FK Universitas Papua contohnya; 2 bulan perkuliahan tanpa Dosen. Praktikum hanya menyaksikan Video. Belum lagi laporan dari beragam kampus kedokteran baru; rasio jumlah dosen dengan mahasiswa yang terlalu jauh. Fasilitas perkuliahan yang dibebankan biayanya pada mahasiswa baru. Kondisi ini menyebabkan mahasiswa baru yang terjaring mesti “sanggup membayar” biaya kuliah yang fantastis. Di mana keadilan sosial yang jadi dasar negara kita? Bagaimana kita dapat memperlakukan manusia dengan “beradab” bila kualitas tenaga kesehatan kita lahir dari kondisi kampus yang macam ini?.

Seperti judul tulisan di atas, serta aspirasi yang diserukan dalam aksi damai Dokter Indonesia: “Reformasi Sistem Pendidikan Kedokteran”, perlu segera dilakukan. Bahwa ini tanggungjawab kita sebagai anak bangsa. Pembangunan dan perbaikan bidang Kesehatan dan Pendidikan tidak bisa ditunda. Masyarakat yang sakit dan terseok-seok akibat sistem dan kemiskinanya tidak bisa menunggu lama. Negara harus bertindak.

– radietya alvarabie

Darurat Reformasi Sistem Pendidikan Kedokteran

dokter

Dokter merupakan profesi Strategis, sebagai mana kita pahami bersama bahwa dunia kesehatan adalah daya ungkit bagi kemajuan dan kesejahteraan sebuah bangsa.

Kita berharap bangsa ini dapat melahirkan Dokter-dokter serta tenaga kesehatan dari bibit-bibit terunggul dengan nurani terbaik.
Serta rasa cinta tanah air yang tinggi.

Harapan itu mustahil tercapai bila Fakultas Kedokteran diperlakukan layaknya “komoditas” yang menjadi nilai jual sebuah universitas serta parahnya lagi menjadi “sapi perah” bagi perguruan tinggi di era BHMN ini. Ini terkait minimnya sokongan dana dari Pemerintah bagi Perguruan Tinggi di Indonesia.

Saat ini tercatat ada 75 FK di Indonesia. Terdiri dari 33 FK dari PTN dan 42 FK dari PTS. Sebanyak 16 FK terakreditasi A, 32 terakreditasi B, dan sisanya masih C. FK yang sudah meluluskan Dokter tercatat sebanyak 69 FK, 6 FK belum meluluskan Dokter.

Masih minimnya jumlah dokter di Indonesia disertai distribusinya yang sangat tidak merata, disikapi dengan tidak bijaksana: “menjamurnya fakultas kedokteran baru/ diobral”.

Dengan dalih: upaya menciptakan dokter yang lebih banyak, serta pemerataan dokter,
FK baru banyak bermunculan di daerah -daerah baik dari PTN maupun PTS.
Sayangnya gagapnya FK-FK baru ini, diiringi dengan mahalnya biaya pendidikan kedokteran dan minimnya kualitas pendidikan (baik proses perekrutan maupun pendidikan).

Dari mulai sarana prasarana yang justru dibebankan ke mahasiswa sampai jumlah pengajar yang amat minim.
Proses penjaringan mahasiswa baru pun jadi sangat tidak profesional. Dahulu kita bisa mendapatkan mahasiswa terunggul untuk masuk dan dididik di FK, saat ini faktanya tidak demikian. Butuh dana yang luar biasa besar untuk masuk FK.
Ini sangat tidak mencerminkan “keadilan sosial” lebih lanjut lagi, kita mempertaruhkan ‘rakyat Indonesia’ pabila mendidik dokter dari bibit yang sedari awal tidak unggul.

Semoga pemerintah berkenan “turun tangan” dalam menyikapi kondisi pendidikan kedokteran di Indonesia yang belum berkeadilan dalam perekrutanya, amat mahal, perlu banyak perbaikan dalam proses pendidikanya, serta output-nya masih berlomba-lomba untuk kembali ke kota atau meneruskan ke jenjang pendidikan spesialis. Kondisi ini sudah darurat dan perlu penanganan yang komprehensif. Jika tidak, dokter dengan kualitas macam apa yang ingin kita diciptakan?

– Radietya Alvarabie
pekerja medis

“Akhlaq” Politisi kita di masa lalu

Di sela masa pengasinganya, Muhammad Hatta berkata kepada seorang Belanda: “Selama aku bersama buku, kalian boleh memenjarakan aku di manapun juga. Sebab bersama buku aku bebas”.

Sejarahwan yang di masa kanak-kanaknya kali pertama berjumpa Bung Hatta saat Beliau diasingkan ke Banda, Des Alwi Abu Bakar, bertutur: Saya berjumpa dengan lelaki yang sangat santun, yang baru saja tiba di Banda dengan membawa beberapa koper besar. Kesemua koper itu berisi buku !!

Sambung Hatta: “membaca tanpa merenung, seperti makan tanpa mencerna”. Dengan membaca kita menjadi “Hamid” (terpuji), serta “Arif” (bijaksana). Dan ini adalah modal menuju pribadi yang cerah dan mencerahkan.

“Door Duisternis Tot Licht”, demikian judul buku yang ditulis Prof. J. H. Abendanon, Menteri Kebudayaan Belanda. Buku uraian surat- menyurat antar beliau dengan Ibu Kartini. Beliau lampirkan pula dalam buku tersebut naskah orisinil Ibu Kartini, berikut makna “Door Duisternis Tot Licht” yakni “Minazh-Zhulumaati ilan Nuur (..dari kegelapan kepada cahaya)” dari Ayat 257 Al Qur’an surah Al Baqarah. Ibu Kartini mentakjubi Ayat ini pasca belajar dari Guru Beliau, sosok yang Hamid dan Arif: Mumammad Soleh bin Umar Assamarani (Kyai Sholeh Darat) pengarang “Faidlur Rahman fi Tafsiril Quran”.

Berbekal ilmu, hati Ibu Kartini tercerahkan: bahwa pendidikan amatlah berharga. Dari sebab itu pula Beliau mencitakan keadilan dalam mengakses pendidikan. Ibu Kartini bukanlah Guru Besar ataupun seorang penemu yang berpengaruh. Yang menjadikan Beliau dikenal dan memukau berbagai kalangan saat itu: adalah keberanian beliau menggagas “persamaan (keadilan)” dalam meraih pendidikan, di tengah kerasnya terpaan Kolonialisme dan imperialisme. Beliau suarakan keadilan dengan “santun”. Di masa itu, beliau sudah menyadari betul: Pendidikan selayaknya kesehatan, adalah hak mendasar bagi semua manusia. Di mana kelak termaktubi dalam Dasar Negara kita: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Pada buku “Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah”, Prof. Dr. Ahmad Sjafi’i Ma’arif menulis, “Betapa seorang Mohammad Natsir Tokoh Partai Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) begitu hangat hubungannya dengan dr. Johannes Leimena anggota Partai Kristen Indonesia. Mereka pun bersahabat dengan I.J Kasimo pendiri Partai Katolik Indonesia. Tiga karib ini bersama-sama melawan sistem politik otoritarian pada era Demokrasi terpimpin (1959-1966).”

Moh. Natsir pernah menjadi Perdana Menteri (1950-1951). Beliau dikenal sebagai orang yang sederhana. Rumahnya ngontrak, jas-nya tambalan. Dia tak mau memakai mobil dinas untuk urusan keluarga. Kemana-mana bersepeda. Natsir juga dikenal sebagai orang yang kritis pada Penguasa. Sahabatnya: I.J. Kasimo, adalah Pendiri Partai Katolik Indonesia. Di awal revolusi, orang-orang Katolik, adalah pendukung Kemerdekaan Indonesia. Kasimo, sepemahaman dengan Uskup Soegijapranata yang terkenal dengan slogannya “100% Katolik -100% Indonesia.” Ketika menjadi Menteri Persediaan Makanan Rakyat (Menteri Pertanian), Kasimo dikenal dengan program “Kasimo Plan”, sebuah rancangan strategi untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyat. Dan Moh.Natsir mendukungnya.

Menurut Ridwan Saidi dalam buku “Selamat Berkarunia”, dr. Johannes Leimena dari Partai Kristen Indonesia- lah, yang mencegah Bung Karno membubarkan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) serta Partai Masyumi. Leimena pula yang menyediakan Gereja Immanuel sebagai tempat rapat tokoh-tokoh Islam di sekitar tahun 1965.

Ridwan Saidi, yang pernah menjabat Ketua PB HMI, sempat bertanya: mengapa Dokter (Leimena) (saat menjabat Wakil Perdana Menteri) membela HMI dan Masyumi?. dr. Leimena menjawab, “Pembubaran Masyumi dan HMI sangat bertentangan dengan demokrasi dan HAM.”

Moh.Natsir (Orang Minang), I.J Kasimo (Jawa), serta dr. J.Leimena (Ambon); berbeda ras, Agama, dan ideologi Politik. Namun mereka sangat akrab, sering saling mengunjungi dan bertukar pikiran tentang kebangsaan. Mereka adalah gambaran intelektual yang terdidik dengan baik: akal, budi, serta nasionalismenya.

Hari ini, sebelum kita “menggeleng-gelengkan” kepala menyaksikan sebagian anak-anak muda dan pelajar, bahkan pekerja profesional kita bersikap tidak sopan terhadap Guru mereka, terhadap Ulama, dan Tokoh Bangsa lainnya, kita insyafi lebih dulu bahwa: Generasi Hari ini mendapat pengajaran ataupun keteladanan dari kita, baik sebagai pendidik ataupun orang tua. Atau melalui rekam jejak “akhlak” kita yang disiarkan lewat media massa (cetak, elektronik, dan digital).

Akhlaq adalah manifestasi dari apa-apa yang terukir kuat di hati melalui proses yang panjang. Lewat pelajaran “adab” orang tua kita dahulu, tentang tata dan krama; bahwa keluhuran ilmu mesti di-ejawantahkan dengan dibiasakan dan pembiasaan. Sikap yang santun di hati, ucap, dan laku, mesti mawujud sehari-hari-nya; dalam ruang privasi pun lingkup publik. Seperti janji dharma Praja muda karana kita: “suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan”.

– radietya alvarabie

IASI dan “Mimpi” Habibie muda

habibie

Beberapa waktu lalu saya sempat berkontak dengan dr.Fabiola Stella, Candidate Dr.medicus (Assisten Arzt) bidang Spesialisasi Kedokteran Penyakit Dalam (Innere Medizin) di Jerman.
Belakangan saya ketahui beliau aktif di IASI (Ikatan Ahli dan Sarjana Indonesia – di Jerman).
Yang membuat saya takjub, founder IASI: Pak Prof. Dr.ing. Dr.sc.mult. B.J. Habibie.
IASI adalah satu-satunya organisasi Indonesia yang diakui Pemerintah Federal Jerman.

Kalau merunut latar belakang sejarah Pak Habibie, beliau juga formerly Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (di-)Jerman,
formerly Direktur PT. Pindad, bahkan menggantikan Jend.Roedini (Founder IPDN), salah seorang Kepercayaan Presiden Soeharto.

Pak Habibie juga Founder Sekolah Insan Cendekia, Founder ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), formerly Ketua BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), Founder dan Direktur pertama IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara), dan Menristek (Menteri Riset dan Teknologi), sebelum akhirnya menjabat Wakil Presiden dan saat Reformasi diamanahkan: Pejabat Presiden.

Jika ada dogma: Habibie hanya cakap di bidang sains, namun sayangnya tidak pandai memimpin (dogma yang santer saat pelengseran Presiden Habibie saat Sid.um MPR, terkait lepasnya Timor Timur (sekarang Timor Leste)), saya sepenuhnya tidak sepakat.

Presiden Soeharto “mendadak” mengganti Wapres- nya dari sebelumnya Jend.Try Soetrisno dengan Pak Habibie, menjelang Pak Harto mengundurkan diri saat 1998, bukan sekedar karena anggapan bahwa Pak Habibie “anak kesayangan” Pak Harto.

Jika menilik sejarah, begitu banyak tokoh lain yang amat dipercayai Pak Harto baik dari latar militer, teknokrat, akademisi, dan pengusaha.
Ada Jenderal Try Soetrisno yang menjabat Wapres, Jend.Wiranto Pangab, Mars.muda Prof.Dr.Ginanjar Kartasasmita, Founder dan Dir.Pertamina dr. Ibnu Soetowo, dan bahkan menantunya sendiri yang saat itu masih 47 tahun; Let.jend Prabowo Soebijanto. Uniknya secara kebetulan posisi Pak Prabowo saat itu mirip seperti posisi (jabatan) Pak Harto saat lengsernya Bung Karno: Pang.kostrad (Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat).

Saya pikir Pak Harto memilih Pak Habibie untuk “menggantikan” beliau, dengan pertimbangan yang mendalam; Pak Habibie cerdas dalam bidangnya (sains dan enginering), mapan dalam manajemen organisasi serta kepemimpinan. Dan yang terpenting beliau “cinta” negaranya, serta punya mimpi besar untuk Bangsa yang dicintainya. Ini adalah kualitas paling mahal dari seorang pemimpin: cita-cita memajukan rakyat yang dipimpinnya.

IASI adalah wujud kepedulian Pak Habibie agar ada “transfer knowledge” dari orang pintar Indonesia di Jerman, dengan rakyat Indonesia di tanah airnya.

Keprihatinan saat ini adalah, bagaimana menumbuhkan bukan hanya “orang pintar”, tetapi juga orang yang “peduli”.
Sebelum kita berlomba perihal karir, studi lanjut, omzet bisnis, jabatan di pemerintahan, rencana travelling, hunting kuliner, dan rentetan ambisi terkait “status” sosial lainnya, kita perlu membangun satu premis yang menjadi pondasi paling mendasar sebagai anak bangsa: mau di bawa kemana potensi terbaik kita ?

– radietya alvarabie