Hari BURUH bagi Para Dokter

Hari BURUH bagi Para Dokter

Kepada Segenap PEKERJA Indonesia
(Tag message; menyikapi minimnya PENGHARGAAN Dokter (BPJS), Antipati Masyarakat, dan Momentum HARI BURUH)

Bismillah
Saudara,
Semoga sebagai satu Bangsa kita bisa bersatu. Mengesampingkan ego profesi, ego sektoral, ego politik pun idealisme kental tak beralasan yang kita miliki.

Cukuplah kita bersatu sebagai satu bangsa yang menghendaki keadilan dalam tiap ruang hidup kita. Kepastian ekonomi serta hukum adalah kebutuhan asasi kita semua, apapun profesinya.

Hayatilah, Permasalahan BPJS bukan sekedar ‘bayaran’ minim bagi dokter, tapi juga klaim pembiayaan yang minim bagi pasien.
Baik dokter maupun pasien adalah sama-sama Rakyat.
Dokter pun bersedih apabila ada penyakit pasien yang mestinya ditindak segera dengan pengobatan terbaik namun tak bisa terlaksana karena minimnya klaim BPJS.

Kita satu Bangsa. Para Dokter pun empati dan mendukung Aksi dan Hari Buruh 1 Mei ini.
Terjaminnya UMR yang kita reguk hari ini adalah buah perjuangan Teman-teman Buruh.

Para Dokter pun berduka dengan nasib Profesi lain yang masih terhimpit di negeri ini. Di antaranya Guru Indonesia terkhusus Guru Honorer.

Pilot, Guru, Insinyur, Buruh, Dokter, dan apapun baju profesi kita, insyafilah kita satu Bangsa. Masing-masing profesi adalah puzzle penyempurna Negeri ini.

Bersama kita lawan ketidak-adilan di Tanah Air kita. Bukan saling menjajah dan mencabik Marwah profesi tertentu akibat pemberitaan media yang tidak berimbang.

Sedikit kita teladani, Bangsa yang pernah turut berkoloni membebat daulat negeri kita: Inggris Raya (Great Britain).
Hari ini seluruh warga Se-Ingris Raya mendukung Aksi Mogok Para Dokter Se-Inggris Raya yang menuntut Kesejahteraan dan Kepastian Hukum bagi mereka.
Masyarakat Inggris menyadari betul, pelayanan yang profesional, mustahil didapat dari penghargaan yang tidak proporsional.

Layaknya negeri Demokrasi lainnya (Inggris Demokrasi-Monarki), kita pun bersepakat, bahwa Adil bukan Sama Rata- Sama Rasa (Prinsip Komunal), melainkan proportif berdasar resiko dan maslahat yang dihasilkan dari Karya-Cipta Profesi tersebut.

Allahualam

Admin Tag Doctors,
Salam Hormat

Selamat Hari Pekerja Indonesia.
Keadilan Sosial adalah hak bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Jakarta, 1 Mei 2016

 

Radietya Alvarabie

@tagdoctors
Fan page Tag Doctors

Tentang Jiwa, di Titik Kulminasinya

Tentang Jiwa, di Titik Kulminasinya

 

Dari ragam manusia, kulit, wajah, harta, pangkat, tiada dinyana, hanya jiwalah yang membuatnya mahal atawa justru tiada nilainya, mulia atau hinadina, diingat dan dirindui, atau justru dilupakan bahkan tabu dikenang.

Sesiapa di antara manusia tiada mengenang Mandela?. Tabahnya berpuluh tahun dalam ringkuk penjara, dicengkeram oleh Bangsa yang justru ‘menumpang’ di Negerinya. Getir yang justru mengekal dalam sejarah. Runtuh Apartheid oleh keteguhan serta kelapangdadaan Mandela. Sesampai kulit putih dari berbagai penjuru kelu menelan ludah, malu hingga mengaku salah dan kalah.

Seringkali, atau mungkin selalulah jiwa bertumbuh justru di titik kulminasi tekanan kehidupan. Tafsir Al-Quran yang melegenda murni dari Penulis Nusantara; Prof. DR. (HC). Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA). Sesiapa menyana bahwa Tafsir Al-Azhar- yang sampai kini masih di kaji di berbagai majelis Ilmu, bahkan salah satu Perguruan Tinggi tertua dunia; Al-Azhar, di Kairo, masih membahasnya- adalah buah tangan HAMKA yang justru menggenapinya di Penjara.

Semasa Sekolah Menengah Pertama, Saya pernah membersamai Sahabat-sahabat sepermainan. Sekali waktu Para Sahabat berbuat sebuah kesalahan besar. Datanglah Guru Kami memergoki kalau itu, tatapannya tajam justru dihujamkan pada Saya. Sangat tajam sampai saya menunduk, lalu…plakkk. Ditamparnya saya. Sesudah reda marahnya; saya hampiri dan bertanya: “..sungguh tadi saya tidak melakukanya..”, belum selesai gugat saya, Beliau timpali cepat dan keras: “..kamu bersama-sama mereka, tidak pantas calon pemimpin berbuat begitu..”. Hening di lisan dan hati saya. Di titik inilah, saya yang masih ingusan, kemudian dihentak turut berpikir tentang terawangan pilihan hidup masa mendatang. Tamparan tadi tidak hanya menyakitkan, memalukan, tetapi pun juga menghentakan luar biasa kesadaran bocah macam saya  kala itu. Demikianlah dahsyatnya seorang Guru. Tindakannya adalah kepedulian. Bahkan dalam marahnya ada makna cinta yang dalam.

Soekarno merampungkan ‘Indonesia Menggugat’ justru dalam penjara Kolonial. Karya yang kemudian jadi pledoi-nya dalam persidangan Kolonial itu diliput oleh media tanah air pun hingga Negeri Belanda. Pesannya: Kolonialisme Belanda terhadap Indonesia adalah kekejaman serta perampasan hak atas kemanusiaan dari sebuah bangsa. ‘Pesan’ Soekarno ini masih menghujam di hati Bangsa Belanda sampai kini. Di Kota Hoorn, Belanda Utara; berdiri patung Jan Pieterszoon Coen. Sosok yang pernah memimpin Batavia sebagai Gubernur Jenderal ini, patungnya sering dijadikan ‘latar’ berfoto warga Indonesia yang singgah di sana. Sekali waktu pernah kala warga Indonesia berfoto di sana, seorang Belanda menyeru: Banggakah kalian padanya (JP. Coen)?, sebab kami Orang Belanda, malu pada apa yang dilakukanya pada kalian (Indonesia).

Indonesia sudah merdeka 70 tahun, dan bahkan pledoi tersebut dibacakan 20 tahun sebelum kita merdeka. Pledoi Soekarno, pun juga gagasan Pancasila-nya adalah buah pikir dari jiwa yang saat itu justru sedang dalam tekanan luar biasa. Soekarno, Hatta, Sjahrir, menghabiskan masa mudanya dalam pengasingan, intimidasi,  serta tentu beragam tekanan luar biasa lainnya pernah mereka alami. Sekali lagi; justru dalam tekanan yang dahsyat itulah Hatta melahirkan konsep Koperasi dan Ekonomi Kerakyatan-nya. Sjahrir dengan gagasan Pemerintahan Demokrasi-nya. Dan saksikanlah; pesan, perjuangan, dan karya yang mereka sampaikan mengekal sampai kini.

Benarlah sebuah pepatah yang mahsyur di Tanah Arab: ‘Pukulan yang tidak mematikannya, hanyalah akan menguatkan’.

 

Radietya Alvarabie

Sejati

Sejati

Cintaku belumlah cukup sejati
Jikapun aku bertahan dalam makna yang tiada sanggup di mengerti,
Musabab ada tempat bersandar yang selalu sanggup mendegupi.
7 tahun mapan di Negeri orang, Mashudul Haq (Agus Salim) menggenapi janji,
Zainatun Nahar tetap yang dipilih.
Tanpa roman, tanpa sumpah, tanpa puisi,
Ia kembali.

Pegawai Belanda kelas atas,
Diplomat terkemuka, Kaum pribumi terpelajar. Putera pembesar terhormat.
Haji Agus Salim telah memilih jalan ceritanya sendiri.
Tiada banyak bicara dan menjanji.
Mantan menteri dan utusan RI pertama di PBB ini tiada pernah punya rumah pribadi.
Hidup nomaden mengontrak sana sini,
Bahkan kain kafan bagi anaknya yang wafat hanya sanggup ia ambil dari kelambunya sendiri.

Atau Hatta,
di goda gadis Polandia tercantik se Amsterdam..
Rindu pada merdekanya negeri tak bernama, ribuan kilo jauhnya dari Kerajaan Belanda menguatkanya tak hilang arah dan selalu sanggup kembali.
Hatta lah yang mengheningkan mess pelajar hindia-belanda dalam kesukariaanya untuk kemudian geming mengingat tanah lahirnya
Hatta lah yang tekun mengajar putera-puteri Indonesia di Boven Digul, Tanah Merah Papua, kala diasingkan.
Hatta pula lah yang gugu dalam gugat Soekarno; ‘mengapa tak kau pilih 1 gadis untuk menikah?’.
‘Aku masih konsentrasi pada kemerdekaan kita’, sahutnya datar.
‘Tapi sampai kapan Bung??’, pelas Soekarno.

Salah satu orang Asia pertama-tama yang belajar di Leiden, rujukan pustaka dunia saat itu.
Sjahrir punya kedudukan terhormat di Eropa.
Bahkan Istrinya yang seorang gadis Belanda pun ditinggalkan demi kembali ke pangkuan pertiwinya, yang koyak saat itu.
Bukan kekuasaan yang melatari.
Sama sekali bukan.
Semasa Soekarni, Sajoeti Meliek mendorongnya ambil alih situasi pasca ‘penculikan’ Soekarno-Hatta,
Sjahrir membentak keras; ‘Gila kalian!! Selama Soekarno – Hatta masih ada, 3, 4 bahkan 5 Sjahrir belumlah pantas..’.

Selagi Fatmawati di pinang,
Tiada serapah pun terlontar dari mulut Inggid Ganarsih pada Ibu Negara pertama kita ini.
Mundur teratur dan pasrah.
Pulang ke Bandung dengan tabah.
Hingga pasca Putera Sang Fajar disematkan sebagai Pemimpin Tertinggi.
Diam-diam Fatmawati mengunjungi Ibu Inggid, berlutut, dan sujud di kakinya.
Tumpah ruah air mata 2 perempuan besar ini bersamaan.
‘betapa sakitnya pabila yang kau cintai direbut..’, gemetar Ibu Inggid membisik.
Makin keras tangis Fatmawati,
dipeluknya erat-erat kaki mantan Istri suaminya itu.
Di hati mereka berdualah terbaluti segala goncang jiwa Bapak Bangsa kita.

Kusno, yang kemudian kita akrabi dengan Soekarno, bukan orang kaya dan terpandang.
Belasan saudagar besar, pejabat VOC, dll
Pernah bertandang,
Namun Fatmawati telah memilih.
Menjelang proklamasi ia tunduk dengan segala pesan suaminya.
Bendera pertama kita sekedar dari seprei putih dan tirai merah tukang bakso,
Tapi dijahit oleh hati yang begitu bersih.
Meski situasi begitu kelam, serba tidak pasti
Sang Istri setia membersamai.

Cinta selalu punya energinya sendiri.
Yang memampukan hati tetap berdiri dalam segala kerapuhan situasi.
‘Orang banyak menyangka aku lelaki setia.
Bagaimana bisa aku setia,
Padahal sudah kecenderunganku untuk mendua.
..engkaulah yang memampukanku untuk setia.
Dengan segala cinta yang kau curahkan padaku..
Segala puji bagi Allah yang menciptakan engkau untukku dan aku bagimu’.
Habibie di hadapan Jenazah Ainun.

– Radietya Alvarabie,
warga biasa

FUL

Tentang Harap

Tentang Harap

Nalurinya manusia, ada kehendak jiwa untuk dimengerti, untuk dipahami, untuk dihormati pada apa yang sudah dengan susah payah diraih.
Naluri yang melebihi harga materi. Tentang harapan ‘diakui’.
Tetapi insan kamil, manusia utuh, punya logikanya sendiri. Asumsi, pabila segalanya bisa ditumpahkan di rumah, pada pasangan jiwa yang setia mendengarkan, maka ringanlah segala beban musabab jiwa telah ditopang, pada rumah tangga sakinah, mawaddah, rahmah, wadda’ah. Maka begitupun dengan Tuhan, asasinya Pemilik jiwa itu sendiri. Meski jiwa ‘ditantang’ untuk percaya bahawa segala luka jiwa disaksikan ‘Pemilik’ jiwa itu sendiri, ‘diapresiasi’, kemudian ‘diganjar’ dengan yang lebih baik.
Hakikatnya naluri harapan untuk ‘diapresiasi’ tadi pun berlaku pada situasi ini.

Maka mengapa Kopral Dua Suparlan rela begitu saja untuk meminta izin pada Komandan Unit Kopassus di Timor Timur (sekarang Timor Leste) untuk maju menjadi tameng hidup, saat Unit itu tersisa 5 orang saja yang hidup, terdesak dan mesti melewati celah tebing, sembari diberondong 300 Fretilin bersenjata lengkap. Suparlan (saat itu berpangkat Prajurit Satu) memberondong sampai habis peluru senapan mesinnya, lalu dicabutnya sangkur komando ditebas 6 orang Fretilin sembari bertubi peluru menghujam tubuhnya, lantas saat tiada lagi tenaga untuk sekedar berdiri, pada puluhan prajurit Fretilin yang menodongkan senjata di kepalanya, dengan sisa tenaga yang ada, dicabutnya 2 pin granat sembari teriak bulat: ‘Allahuakbar’.

Harap. Itu pula yang hampir 3000 tahun lalu teguh di hati Yunus Ibnu Matta, Nabiyullah.
Dalam perut Ikan Paus, di tengah gelapnya dasar samudera, di pekat malam, hatinya memasrah. Pada Satu sandaran, sembari mendoa dengan rendah hati; Lailahailla anta, Subbahanaka, inni kuntu minadzdzalimin.
Tiada Tuhan melainkan Engkau semata. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku termaksud orang yang zalim.
Muhammad Shallu alaihi wassalim, menyebut Beliau Hamba Allah yang shalih, menutur: pabila bukan karena kalimat ini, niscahya Yunus bin Matta tetap di perut ikan itu sampai kiamat tiba.
Allah hughayatunna, mendengar segala harap, meski di tempat paling rahasia, yang tiada satu makhluq pun peduli, meski begitu pelik dan mecekiknya situasi.

Khatammul Anbiya, Muhammad Shallu alaihi wassalam, mengajarkan doa: Allahumma innaka affuwwun karim tuhibbul afwa fa’fuanni. Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai Permohonan maaf, Maka maafkanlah aku.
Sebelum tiba pada harapan untuk dimaafkan, Nabi kita mengajarkan untuk memasrahkan diri, rela, dan meyakini sifat-sifat Allah, dalam hal ini sebagai Yang Maha Pemaaf dan mencintai permintaan maaf (cabang sifat Kasih dan Sayang).
Begitupun pada kisah Nabiyullah Yunus bin Matta, beliau menegaskan kerelaanya bahawa pada kepelikan tersebut, tiadalah yang menjadi tempat bergantung (Tauhid Uluhiyah) melainkan Allah semata, Tuhan yang Maha Suci (dari kesalahan, selayaknya yang diperbuat Yunus dengan meninggalkan kaumnya), serta pengakuan bahwa tindakan tersebut adalah kezaliman.
Yang menarik dari doa Nabi Yunus ini, bahwa beliau tidak mengucap satu kalipun: untuk dikeluarkan dari perut ikan.
Tapi ‘harap’ Yunus dari nalurinya sudahlah lebih dahulu di mengerti Sang ‘Pemilik’ jiwa.
Allah ta’ala menyelamatkan Nabi Yunus ke daratan, dianugerahkan makanan, serta pengikutnya yang dulu begitu sulit menerima dakwahnya, menyambutnya dengan sukacita.
Perhatikan bagaimana ‘Pemilik’ jiwa memperlakukan makhluq ciptaanya.

Begitu pula Kopral Dua Suparlan, beliau bukan Perwira, namun namanya diabadikan sebagai nama Bandara Perintis, 4 tahun setelah itu. Beliau mendapat anugerah Bintang Sakti. Bahkan tak lama setelah itu Fretilin mengirim surat pengakuan dan penghormatan yang tinggi atas keberanian Prajurit Suparlan. Sebuah Nota penghormatan dan ‘pengakuan’ meski dari musuh.
‘Harapan’ untuk sekedar di dengar, diakui, diapresiasi, tiadalah sama dengan kesombongan. Sebab sombong, selayak yang diurai Nabi kita; adalah merendahkan orang lain, dan menolak kebenaran. Demikianlah batas benangnya.

Iblis menyombong terhadap Adam alaihissalam. Mengaku lebih tinggi (ia tercipta dari Api) daripada Adam (hanya tercipta dari tanah). Iblis menolak kebenaran (dari Titah Allah) bahwa Adam adalah khalifah Allah, lewat penolakan Iblis saat diminta bersujud kepada Adam.

Iblis, begitu ia dinamakan, berasal dari kata Ablasa (keputus-asaan). Sebab Iblis terputus dari rahmat (kasih sayang) Allah.
Ia tiada lagi ‘berharap’ terhadap kasih sayang Allah, meski ia tiada mendustai ketuhanan Allah (Tauhid Rububiyah), namun ia durhakai keputusan Allah (Tauhid Asma wa Sifat).
Sedangkan Nabi Adam, manusia pertama, Allah ciptakan sudah dengan fitrah (sifat dari keawalanya) memiliki ‘harap’.
Setelah berhasil diperdaya Iblis dengan mendurhakai larangan Allah (mendekati pohon dari buah khuldi), Adam beserta Istrinya: Siti Hawa, diusir dari Syurga, mereka berduapun dipisahkan sekian ratus tahun lamanya. Namun Nabi Adam masih memiliki ‘harap’ dan harapan itu ia sandarkan kepada Allah azza wa jalla semata dengan doa: ‘Rabbana dzalamna anfusanna, wa ilamtaghfirlanna, watarhamnna, lanakunnanna minal khasyiriin’.
Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi (menganiaya) diriku sendiri, pabila Engkau tidak memaafkanku, dan pabila Engkau tidak merahmatiku (memberikanku kasih sayang-Mu), niscahyalah aku termasuk orang-orang yang merugi. Musabab kalimat inilah, Allah hurrahman mengampuni Nabi Adam, dipertemukan kembali dengan Istrinya, dan diangkat menjadi Nabi, serta diberkahi hidupnya.

Bermodalkan ‘harapan’ jiwa kita bergerak mengejar kebaikan demi kebaikan, beryakin pada harapan bahwa: ‘harapan kita di dengar’, dimafhumi, diganjar, maka niscahya jiwa menjadi hidup. Pada ganjaran yang buruk dari makhluq atas kerja-kerja kita, pada kesewenang-wenangan penguasa memperlakukan kita, pada kepedihan-kepedihan apapun, tiadalah kita patut mundur, selagi memiliki ‘harapan’, asasinya kita sudah menang, sebelum ganjaran dari keyakinan sebuah pengharapan itu mewujud.
Seperti doa yang diajarkan Habiballah Muhammad Shallu alaihi wassalim:
Radhitubillah hirabba wa bil Islammiddinna..
Aku Ridha Allah sebagai Tuhanku, dan Islam sebagai Agamaku.
Allahualam bishshawwab

Di pinggiran Ibukota,
Radietya Alvarabie,
warga biasa

 

TAG

Pusaka Sahabat

Pusaka Sahabat

14 Abad lalu, seseorang bertanya pada Ali Ibnu Abi Thalib tentang Sahabat. Beliau, Karramahullahu wajhah menjawab: “.. adalah dia yang menyusahkan dirinya agar bermanfaat bagimu..
di waktu membimbangkan, dia berkata terus terang kepadamu..
dia rela hancur berantakan, hanya agar kamu terkumpulkan selalu (dalam kebajikan)”.

Sahabat, adalah nikmat. Tatkala membincang perihal nikmat terbaik setelah iman, maka Umar Ibnu Al-Kaththab bulat menyebut; “.. Sahabat yang shalih”.
Suatu kali Beliau, Al Farouq, mengadu pada Rasul Shalallahu alaihi wassalam; Ya Rasul, Ali tiada pernah mengucap salam pabila berjumpa denganku..selalulah aku yang mengucapnya lebih dahulu.
Rasul tersenyum; “..begitukah Ya Ali?”
Ali tiada menjawab..kemudian menutur pelan; “..bukankah Engkau berpesan: Sesiapa yang mengucap salam lebih dahulu bagi saudaranya, maka ia yang lebih dahulu kan memasuki syurga…
Maka Yaa Rasulullah, aku utamakan Umar lebih dahulu memasuki syurga dari diriku..”.
Tertunduk, dan basahlah janggut Umar..menggugu ..dan di dekapnya Sahabat yang sempat digugatnya itu.

Dalam mendebarkanya perjalanan hijrah,
Hingga mesti bersembunyi dan berdiam dalam gua..
Berpuluh kali Ular mematuk tubuhnya, Abu Bakar tiada menggeming, Demi tetap tenangnya tidur Nabi di pangkuanya. Hingga Rasul barulah terbangun kala air mata Abu Bakar menetes di pipi Beliau.
Abu Bakar Ash-Shiddiq, bermakna orang yang bersegera (dalam kebajikan) dan orang yang benar dan membenarkan (yang haq).
Suatu kali Nabi dan Aisyah berduaan menatap taburan bintang di langit, Ummul mukminin ini bertanya; “..pahala siapakah sebanyak bintang di langit ini Yaa Nabi?”.
” Pahala Sahabatku; Umar..”, jawab Nabi.
Aisyah menunduk, dalam hati berharap itu pahala Ayahnya (Abu Bakar).
Rasul yang paham isi hati Aisyah melanjutkan; “..ketahuilah, 1 hari Abu Bakar mendampingiku hijrah, pahalanya melebihi gemintang malam ini”.
Maka tersenyumlah Aisyah.

Demikianlah, sejarah berkisah tentang Sahabat terbaik. Di suatu majelis kecil, Hasan Al Bashri baru saja menyelesaikan pengajaranya pada murid-muridnya. Tetiba beliau tercekat; “..demikian yang bisa kusampaikan pada kalian..
Maka pabila kalian di Syurga nanti..namun tak kalian dapati aku di sana, bertanyalah kepada Allah tentang nasibku..
Dan kisahkanlah pertemuan kita hari ini”.
Para murid Beliau pun terisak hingga terguncang bahunya..
Padahal kami lebih layak berucap begitu.

 

Radietya Alvarabie

Sahabat biasaGEDE

Sunyi

Engkau tahu apa itu sunyi?

Ialah hati yang salah menafsirkan cinta sebagai cumbu rayu, sedangkan ia sebenarnya paham pada saat itu telah meniadakan Tuhan dalam dirinya sendiri.

Pezina atas nama cinta kerap mengabaikan satu perkara. Hakikatnya kebenaran cinta bukan seberapa banyak kata-kata rindu yang mengudara dalam ujar serta menjadi debar, tetapi ikatan batin belum sebenar halal namun kesediaan hidup untuk bertahan pada kesucian diri hingga Allah memantaskan diri untuk dipersunting sesiapa pun yang Dia kehendaki sebagai anugerah dalam berkasih sayang.

Demikianlah, jika ingin menjadi pengisah kasih sayang yang bijaksana eloklah satukan segala rasa dalam doa. Sehingga gaduhlah langit dengan suara-suara dzikir kita. Lalu dipertimbangkan oleh-Nya untuk menyatukan kita dalam takdir pernikahan, saling menyatukan anasir rasa setia dalam meluhurkan karomah cinta yang tiada pernah ada batasnya.

Maka,

engkau tahu apa itu sunyi?

Bertanya pada hati?

Bertanya pada hati?

Merehat sekedap..pasca helaan nafas terpanjang, tanyalah pada hati;
Kita yang jatuh cinta atau kita yang ingin dijatuhcintai?

Belasan foto kita pampang,
dengan pasangan dan orang tersayang.
Benarkah karena kita bahagia,
atawa kita hanya harapkan khalayak paham bahwa kita sedang berbahagia?

Kita berkisah riuh ricuh perjalanan,
masam getir perjuangan..
benarkah segetir itu,
musababkah hanya ingin dimengerti bahawa kita sedang berjuang?

Saudara..
Kita bertekad menyala bagai arang memerah dipanggang..
akan cita yang hendak kita menangi membara.
Sungguhkah kita genapi?..
Atawa cukup kita dinilai penuh semangat?..
dan hasrat kita klimaks di titik pengakuan itu?
Kah?

Maka,
menjejak 4000 tahun lalu..
Ibrahim alaihissalam..
Lelaki yang kenabianya tak dibantah satu millah pun di bumi di sepanjang masa.
Terbuang dari rumah,
terusir dari umat..
di hadapan gejolak api yang kepadanya tubuhnya hendak di lempar..
tak satu pun sesumbar terloteh,
hanya berbisik;
‘hasbunallah wa ni’mal wakil..’
– cukuplah Allah bagiku..dan Dia sebaik-baik penjamin.

Menyibak kisah masa tertindasnya Putera-putera Israil.
Firaun dengan gagahnya berucap; ana rabbukumul’ala
– aku tuhanmu yang maha tinggi.
Asiyah Istrinya..tak serta merta menurut dan mengiyakan demi status kepermaisurianya.
Bahkan tak rela ia akui barang di mulut saja demi selamat hidupnya..
ia berkata ‘La..’
-Tidak..
dan habislah Jasad wanita mulia ini dalam pedihan siksa.

Di lembar masa hijrahnya Keturunan Israil dari Tanah Mesir,
Di hadapan laut merah yang begitu menggejolak..
di sergap Firaun dan tentaranya di belakang..
Umat Musa alaihissalam begitu kelu..
tercekat rasa takut,
berujar terburu pada Nabinya;
Tuhanmu telah meninggalkan kita.
Saudara Harun alaihissalam ini menegas;
‘Rabbi, maiyatinna wa sayyatinna’
– Tuhanku bersama denganku dan Dia yang akan menunjukiku (jalan keluar).

Hikmati saudara..
Tiada keluh pun kesah,
Tiada gulana,
Tiada gugatan,
Tiada cercaan wa lampias,
Tiada kesumat.
..dan tiada mengumbar pada sesiapapun.

Seperti yang 1400 tahun silam dibisik Rasul Mulia Shallu alaihiwassalam pada sahabat mulia Ashshiddiq
dalam pelarianya menyelamatkan iman
..
di situasi yang begitu mencekik;
‘La Tahzan..innallaha ma’anna’
– jangan bersedih, sungguh Allah beserta kita.

Itu saja.

– Radietya Alvarabie
abdillah

FUL

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.