#SaveTenagaKesehatanIndonesia Nota Keberatan terhadap ‘Sikap Kasar’ Gubernur Jambi: Zumi Zola, terhadap Dokter dan Perawat RSUD Raden Matahher

#SaveTenagaKesehatanIndonesia

Nota Keberatan terhadap ‘Sikap Kasar’ Gubernur Jambi: Zumi Zola, terhadap Dokter dan Perawat RSUD Raden Matahher

Menjadi seorang pekerja di dunia kesehatan di Indonesia betul-betul miris. Dihujat saban hari, jadi sasaran ‘kutukan’ masyarakat terhadap sistem kesehatan yang kacau balau. Padahal ujung pangkal masalahnya ada di ‘Pemerintah’ itu sendiri.

Tenaga medis adalah manusia biasa. Di Indonesia, tenaga medis melayani ratusan orang sakit setiap harinya, dengan sistem yang gonta-ganti (tanpa sistem pembiayaan kesehatan yang ajeg), dengan support pembiayaan yang minim dari negara, mayoritas menerima ‘gaji di bawah UMR’, tidak ada uang tunjangan untuk vaksin atau suplemen, yang non-pns sebagian besar bahkan tidak punya asuransi kesehatan, setiap harinya di rong-rong pasien yang mengaku pejabat atau mengancam akan menuntut secara hukum. Apa perasaan saudara bila di posisi sebagai tenaga medis??.
Prihatin? Empati?
Atau justru dengan apatis bicara: ‘itu resiko jadi tenaga medis?’
‘Harus ikhlas’. Dan ungkapan sufi lainnya yang seakan hanya berlaku bagi profesi kesehatan, lainnya tidak.

Saudara, mari insyafi sejenak, sebuah dunia yang menjadi tulang punggung ketahanan sebuah bangsa: Dunia Kesehatan. Tidak ada yang protes Polisi-Tentara di gaji layak, diberi pangkat, tunjangan, dan fasilitas kesehatan lain. Agar fokus pada tugasnya melindungi bangsa. Guru mendapatkan sertifikasi dan tunjangan, karena jasa-jasanya dan harapan wajah pendidikan kita lebih baik. Gaji PNS diberikan jauh di atas UMR, tunjangan kepangkatan, asuransi kesehatan, dana pensiun, dan segenap fasilitas lainnya. Dengan harapan PNS selaku abdi negara bisa mengabdi dengan profesional, tidak korup, imbasnya; performa pemerintahan negeri ini menjadi efektif dan adil. Lantas bagaimana kita “memperlakukan” pekerja di dunia kesehatan selama ini?

Sadarkah kita, bahwa biaya pendidikan dokter dan tenaga kesehatan adalah yang termahal dibanding bidang keilmuan lain? Fatalnya subsidi dari negara yang dulu ada, justru kini dicabut, sehingga mahalnya biaya tadi hampir sepenuhnya mesti ditanggung para mahasiswa kesehatan. Dari mulai pendidikan sarjana, profesi, spesialis. Kurva “kemahalan” ini menanjak terus. Apakah jaminan pasca lulus semua tenaga medis sejahtera?. Kita akan membahas kesejahteraan tenaga kesehatan yang sering dicibir oleh media massa dan sebagian pihak: “harus kerja ikhlas”. Seolah tenaga kesehatan ‘haram’ menuntut hak untuk sejahtera lahir batin.

Sebagian besar tenaga kesehatan di Indonesia bukanlah PNS. Pihak swasta ataupun fasilitas kesehatan negara yang mempekerjakan mereka (status honorer/ Tenaga Harian Lepas) menggaji dengan amat tidak layak. Ada yang tidak digaji, hanya dapat uang ‘tip’ dari merujuk. Ada yang digaji bahkan tidak sampai setengah dari besaran UMR. Untuk fasilitas kesehatan: hampir semua tenaga kesehatan di Indonesia tidak mendapatkan Anggaran khusus untuk vaksinasi atau suplemen kesehatan, padahal tenaga kesehatan adalah yang paling rawan tertular penyakit berat. Sebagian besar tenaga kesehatan yang bukan pegawai pemerintah, tidak mempunyai asuransi kesehatan. Sedih sekali menyaksikan teman-teman sesama tenaga kesehatan yang sering kali tidak bisa berobat, karena tidak punya biaya. Tragis, mereka di lini terdepan yang merawat rakyat negerinya, namun perlakuan dan fasilitas yang mereka dapat justru sebaliknya.

Dunia kesehatan sangat menegangkan, tinggi tingkat stress-nya. Maka itu sebagian menyebutnya: “rimba raya”. Orang non-medis yang memilih pasangan hidup yang bekerja sebagai tenaga kesehatan pasti menyadari stress tegangan tinggi ini. Keilmuan harus diterapkan sedisiplin mungkin, protap mesti dijalankan seprofesional mungkin, siap bertugas mendarmakan ilmu dan keahliannya; kapanpun dimanapun diperlukan sepanjang usianya, berhadapan dengan pasien dan keluarganya yang sebagian sikap dan ucapnya sangat menyesakkan hati, sistem kesehatan yang kacau, pendapatan minim, cibiran sebagian Masyarakat untuk “ikhlas” saat menyuarakan aspirasi, jam kerja diluar batas; baik kuantitasnya maupun “family time” yang tergadai karena harus “shift malam”. Dengan pengorbanan yang demikian besar inilah, para tenaga kesehatan di berbagai belahan dunia sangat dihormati. Orang-orang yang me-wakafkan usianya untuk belajar dan merawat “manusia” dan kemanusiaan, seumur hidupnya. Karenanya mereka deserve/ layak menyandang; penghormatan sosial, jaminan perlindungan hukum, serta kesejahteraan yang layak. Diberbagai negara di dunia ini; tenaga kesehatan-lah yang mendapat penghormatan dan perlindungan terbaik. Lantas, bagaimana Pemerintah Indonesia memperlakukan tenaga medisnya?

Di Australia; Dokter, perawat, bidan, bahkan supir ambulans, mendapatkan perlindungan dari negara. Sesiapapun yang mengancam mereka baik verbal maupun fisik, akan berhadapan dengan tuntutan hukum khusus, pidana penjara selama 14 tahun. Di Jerman dan Perancis; sarjana di bidang kesehatan, dibebaskan biaya pendidikanya, dan ketika memasuki pendidikan profesi (Co-Ass, Pendidikan Dokter Spesialis, Ners, Apoteker, Ahli Gizi) mereka mendapatkan gaji, sedangkan di Indonesia masih harus membayar dana yang selangit. Seringkali saking besarnya biaya, para siswa ini mesti putus sekolah profesinya. Jika masih ingat, serangan tentara Israel terhadap kapal pembawa bantuan medis ke Palestina: Navi Marmara, mendapat kecaman keras dari berbagai negara, termaksud PBB. Dalam situasi perang pun Tenaga kesehatan mesti dilindungi, karena dunia menyadari urgensi peran dan menghormati pengabdian mereka.

Di Indonesia; Pemerintah serta para politisi belum memahami dan menyadari vitalnya peran dunia kesehatan. Anggaran seadanya, sistem yang chaos, sistem pendidikan kesehatan mahal dan tidak profesional, “kesehatan gratis” jadi barang komoditi jualan politik, fasilitas kesehatan serta aksesnya sangat terbatas. Dan kita dikejutkan dengan; Kemarahan Gubernur Jambi terhadap tenaga medis yang beristirahat sejenak (saat kondisi tidak gawat) sangat tidak patut. Berteriak-teriak, bersikap kasar, membawa kamera ke dalam rumah sakit; out put apa yang diharapkan???

Di Inggris, rakyat bersatu bersama tenaga medis saat aksi turun ke jalan “menolak upah murah” bagi tenaga medis. Aksi ini adalah yang pertama setelah 25 tahun. Mereka menyadari: “when you pay with a peanuts, so you’ll get a monkey”. Di Korea rakyat bersatu mendukung para dokter yang menolak pemotongan jasa medis dan jam kerja di luar batas, serta intervensi wajib militer di dunia medis. Di Indonesia; kita sayangnya belum mencapai “kesejiwaan” antara tenaga medis dengan rakyat. Peran “media massa” dan jualan politik “kesehatan gratis” sangat berdampak dalam menciptakan ‘jurang’ antara rakyat dan tenaga kesehatan. Para Dokter, Dokter Gigi, Perawat, Bidan, Apoteker, di Indonesia masih harus berhadapan dengan “barrier” media massa bila ingin menyerukan aspirasinya. Pengabdian para tenaga kesehatan serta mirisnya nasib mereka seakan sepi peminat. Media lebih ramai memberitakan “dugaan” mal praktik dan “vaksin palsu” yang faktanya tidak ada sangkut pautnya dengan dokter.

Apa yang dilakukan Gubernur Jambi amat disayangkan, tenaga kesehatan tidak layak diperlakukan begitu. Pengabdian mereka belum sepadan dengan hak yang semestinya mereka dapat. Nestapanya masih dihujami derasnya fitnah dan pelecehan profesi yang seakan “diaminkan” media massa. Kegagalan pemerintah menciptakan performa fasilitas kesehatan yang prima, dimuntahkan kesalahannya pada tenaga kesehatan. “Pengobatan alternatif”, praktik Dokteroid (oknum non medis yang berlaku layaknya dokter), serta overclaim produk kesehatan (biasanya MLM), yang jelas-jelas membahayakan rakyat, justru dibiarkan melenggang. Terbit di media massa dan bahkan siaran di radio dan TV nasional. Fatal!!!

Jika fitnah dan ketidakadilan bertubi-tubi ditumpahkan ke para tenaga kesehatan kita, mustahil kita menjadi bangsa yang kuat, dan berdaulat dalam hal industri pelayanan kesehatan.
Chaos-nya sistem pelayanan kesehatan dan sistem pendidikan kesehatan, akan dengan mudah dilumat “fasilitas kesehatan asing” yang semakin menjamur hari-ke hari. Kulminasinya; Kelak kita hanya sanggup jadi pasien yang bangkrut dan terlunta-lunta di negeri sendiri.

Semoga tidak.

radietya alvarabie

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s